Kabit Savaiye Bhai Gurdas Ji

Halaman - 352


ਜਉ ਜਾਨੈ ਅਨੂਪ ਰੂਪ ਦ੍ਰਿਗਨ ਕੈ ਦੇਖੀਅਤ ਲੋਚਨ ਅਛਤ ਅੰਧ ਕਾਹੇ ਤੇ ਨ ਪੇਖਹੀ ।
jau jaanai anoop roop drigan kai dekheeat lochan achhat andh kaahe te na pekhahee |

Jika kita percaya bahwa kita melihat keindahan alam karena mata kita, lalu mengapa orang buta yang tidak memiliki mata tidak bisa menikmati tontonan yang sama?

ਜਉ ਜਾਨੈ ਸਬਦੁ ਰਸ ਰਸਨਾ ਬਖਾਨੀਅਤ ਜਿਹਬਾ ਅਛਤ ਕਤ ਗੁੰਗ ਨ ਸਰੇਖ ਹੀ ।
jau jaanai sabad ras rasanaa bakhaaneeat jihabaa achhat kat gung na sarekh hee |

Jika kita yakin bahwa kita mengucapkan kata-kata manis karena lidah kita, lalu mengapa orang bisu yang lidahnya utuh tidak bisa mengucapkan kata-kata tersebut?

ਜਉਪੈ ਜਾਨੇ ਰਾਗ ਨਾਦ ਸੁਨੀਅਤ ਸ੍ਰਵਨ ਕੈ ਸ੍ਰਵਨ ਸਹਤ ਕਿਉ ਬਹਰੋ ਬਿਸੇਖ ਹੀ ।
jaupai jaane raag naad suneeat sravan kai sravan sahat kiau baharo bisekh hee |

Jika kita menerima bahwa kita mendengar musik yang merdu karena telinga, lalu mengapa orang tuli tidak dapat mendengarnya dengan telinga utuh?

ਨੈਨ ਜਿਹਬਾ ਸ੍ਰਵਨ ਕੋ ਨ ਕਛੂਐ ਬਸਾਇ ਸਬਦ ਸੁਰਤਿ ਸੋ ਅਲਖ ਅਲੇਖ ਹੀ ।੩੫੨।
nain jihabaa sravan ko na kachhooaai basaae sabad surat so alakh alekh hee |352|

Faktanya, mata, lidah, dan telinga tidak memiliki kekuatannya sendiri. Hanya penyatuan kesadaran dengan kata-kata yang dapat menggambarkan atau memungkinkan kita menikmati apa yang kita lihat, ucapkan atau dengar. Hal ini juga berlaku dalam mengenal Tuhan yang tidak dapat digambarkan. Mengasyikkan kesadaran