Bhairao, Mehl Ketiga:
Di atas papan tulisku, aku menulis Nama Tuhan, Tuhan Semesta Alam, Tuhan Dunia.
Karena cinta dualitas, manusia terperangkap dalam jerat Utusan Maut.
Guru Sejati memelihara dan menopang saya.
Tuhan, Pemberi kedamaian, selalu bersamaku. ||1||
Mengikuti instruksi Gurunya, Prahlaad melantunkan Nama Tuhan;
dia masih kecil, tapi dia tidak takut ketika gurunya membentaknya. ||1||Jeda||
Ibu Prahlaad memberikan beberapa nasihat kepada putra kesayangannya:
“Anakku, kamu harus meninggalkan Nama Tuhan, dan selamatkan hidupmu!”
Prahlaad berkata: “Dengarlah, hai ibuku;
Saya tidak akan pernah melepaskan Nama Tuhan. Guruku telah mengajariku ini." ||2||
Sandaa dan Markaa, gurunya, menemui ayahnya, raja, dan mengeluh:
“Prahlaad sendiri telah tersesat, dan dia menyesatkan semua murid lainnya.”
Di istana raja yang jahat, sebuah rencana dibuat.
Tuhan adalah Juruselamat Prahlad. ||3||
Dengan pedang di tangan, dan dengan harga diri yang sangat egois, ayah Prahlaad berlari menghampirinya.
“Di manakah Tuhanmu, siapa yang akan menyelamatkanmu?”
Dalam sekejap, Tuhan muncul dalam wujud yang mengerikan, dan menghancurkan pilar tersebut.
Harnaakhash terkoyak oleh cakar-Nya, dan Prahlaad diselamatkan. ||4||
Ya Tuhan menyelesaikan tugas para Orang Suci.
Dia menyelamatkan dua puluh satu generasi keturunan Prahlaad.
Melalui Sabda Shabad Guru, racun egoisme dinetralkan.
Wahai Nanak, melalui Nama Tuhan, para Suci dibebaskan. ||5||10||20||
Bhairao mewujudkan iman jiwa dan pengabdian sepenuh hati kepada Sang Pencipta. Itu semacam fanatisme, dimana ada perasaan tidak sadar atau tidak peduli terhadap hal lain. Emosi yang disampaikan adalah perasaan puas dan terserap dalam keyakinan atau keimanan yang teguh. Dalam Raag ini, jiwa menyampaikan kebahagiaan yang berpotensi dialami oleh pikiran jika bergabung dengan pengabdian ini.