Salok, Mehl Kelima:
Saya terikat pada tempat yang tepat; Uniter telah menyatukan saya.
Wahai Nanak, ombaknya ratusan dan ribuan, tapi Suamiku Tuhan tidak membiarkanku tenggelam. ||1||
Jika ada perumpamaan yang sempurna untuk Raag Gujari, itu adalah seseorang yang terisolasi di padang pasir, yang tangannya ditangkupkan, memegang air. Namun, hanya ketika air mulai merembes secara perlahan melalui kedua tangan mereka yang saling bergandengan tangan barulah orang tersebut menyadari betapa berharga dan pentingnya air tersebut. Demikian pula Raag Gujari mengarahkan pendengar untuk menyadari dan menyadari berlalunya waktu dan dengan cara ini menghargai sifat berharga dari waktu itu sendiri. Wahyu tersebut membawa pendengarnya pada kesadaran dan pengakuan akan kematian dan kefanaannya sendiri, membuat mereka memanfaatkan sisa ‘waktu hidup’ mereka dengan lebih bijak.